Minggu, 10 Agustus 2014

MIe Kelor

Kelor, The Miracle Tree
Oleh : Rita Sastriana,S.T.P




Dunia ternyata tidak selebar daun kelor”, perumpamaan ini sering kali kita dengar. Tapi tau nggak kalau ternyata meskipun daun kelor tidaklah selebar daun keladi. Namun , kelor memiliki manfaat yang bisa dibilang sangat lebar. Dalam artian memiliki manfaat yang luar biasa buat kesehatan tubuh kita.
Kelor (Moringa oleifera Lam) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.
Indonesia adalah negara agraris yang memiliki hamparan tanah yang luas. Namun sayang sampai saat ini sama sekali belum dijumpai budidaya tanaman kelor. Padahal kalau saja kita mau membudidayakannnya, tentunya anak – anak Indonesia tidak akan mengalami kekurangan gizi sebab kandungan vitamin dan mineral yang dimiliki pada daun kelor konon jauh melebihi tanaman – tanaman sayuran lain yang biasa kita konsumsi.
Berikut akan dibahas manfaat dari tanaman kelor,
  1. Daun kelor dicampur dengan kapur sirih merupakan obat penyakit kulit seperti kurap, kudis panu dll
  2. Daun dan akar kelor direbus dengan air hingga airnya pekat. Airnya diminum untuk mengobati penyakit rematik, infeksi dan menghilangkan gangguan kemih (melancarkan saluran kencing) serta penyakit kelamin
  3. Sebagai stimulus (perangsang), caranya biji kelor tua dicampur dengan pala lalu dihancurkan hingga menjadi bubuk, kemudian dicampur dengan air lalu diminum
4.     Sebagai penawar kekuatan ilmu hitam dalam dunia magis.


Namun tahukah kita,.? bahwa sebenarnya kelor mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi dan mengandung 18 asam amino termasuk 9 asam amino essensial (Gupta dkk, 1988). Oleh karena kandungan nutrisinya yang tinggi tersebut maka di Negara lain, dan di beberapa daerah di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Barat saat ini tengah menggalakkan budidaya kelor yang ditujukan untuk sumber bahan pakan ternak sapi
.
        Sekedar diketahui, beberapa hasil penelitian dan pengkajian melaporkan bahwa pemberian daun kelor sebagai pakan suplemen pada ternak sapi mampu meningkatkan total konsumsi pakan dan meningkatkan pertambahan berat badan harian dibandingkan dengan sapi yang hanya mengkonsumsi rumput (Foidl dkk, 2001). Pada sapi perah juga memberikan dampak terhadap produksi susu lebih tinggi pada sapi yang diberi suplemen daun kelor segar sebanyak 8 sampai 12 kg dari sapi yang hanya diberi rumput (Sa´nchez dkk,2005)
Jumlah kandungan gizi yang terdapat pada daun kelor yaitu,
Zat/Unsur pada Daun Segar
Protein
                                     -  6,80 g
Lemak
                                    - 1,70 g
Beta Carotene (Vit.A)
                        - 6,78 mg
Thiamin (Vit.B1)
                     - 0,06 mg
Riboflavin (Vit. B2)
                - 0,05 mg
Vitamin C
                              - 220 mg
Kalsium
                                   - 440 mg
Kalori
                                     - 92 kal
Karbohidrat
                             - 12,5 g
Serat
                                       - 0,90 g
Ferrum (zat besi)
                     - 0,85 mg
Magnesium
                              - 42 mg
Posfor
                                     - 70 mg
Kalium
                                                - 259 mg
Zincum (seng)
                        - 0,16 mg
Zat/Unsur pada Daun Kering
Protein                                     - 27,1 g
Lemak
                                    - 2,3 g
Beta Carotene (Vit.A)
           - 18,9 mg
Thiamin (Vit.B1)
                     - 2,64 mg
Riboflavin (Vit. B2)
               - 20,05 mg
Vitamin C
                               - 17,83 mg
Kalsium
                                  - 2003 mg
Kalori
                                     - 205 kal
Karbohidrat
                             - 38,2 g
Serat
                                       - 19,2 g
Ferrum (zat besi)
                     - 28,2 mg
Magnesium
                             - 368 mg
Posfor
                                     - 204 mg
Kalium
                                   - 1324 mg
Zincum (seng)
                        - 3,29 mg
(Berdasarkan analisa Lowell J. Fuglie)
Di Nusa Tenggara Barat khususnya masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat lebih mengenal dan memanfaatkan kelor sebatas daun kelor segar. Daun kelor segar lebih sering dijadikan alternatif sayuran dan diolah menjadi masakan apabila tidak ada lagi sayuran yang bisa dimakan. Bahkan pengolahan daun kelor yang lazim dilakukan hanya dimasak dengan air (direbus) dan ditambahkan dengan garam saja..
Adalah satu Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Taliwang yang bernama ‘Sahabat Tani’ yang diketuai oleh ibu Suryani dari Desa Banjar Kecamatan Taliwang, mencoba untuk mengolah tanaman kelor menjadi berbagai macam olahan seperti kerupuk kelor, sirup kelor dan mie kelor. Dengan dipandu oleh PPL dari BP Kecamatan Taliwang, pada tanggal 06 Mei 2014 lalu, KWT Sahabat Tani, mempratekkan proses pengolahan mie kelor bersama ibu-ibu PKK dilingkup Desa Banjar.
Proses pembuatan mie kelor sendiri tidak berbeda jauh dengan pembuatan mie jagung (pernah ditampilkan di Suluh KSB Edisi Perdana 2011). Hanya saja untuk mengurangi rasa pahit dari daun kelor, maka terlebih dahulu direbus beberapa saat baru diblender kemudian disaring dan selanjutnya diolah seperti membuat mie jagung.
 Kegiatan yang diperagakan oleh KWT Sahabat Tani perlu mendapatkan apresiasi dari pemda KSB. Karena ide ini telah menciptakan kreatifitas keluarga petani untuk memanfaatkan tanaman yang ada disekitar lingkungan rumah tangga. Selain murah meriah dan mudah didapat, kegiatan mengolah tanaman kelor menjadi mie kelor dan olahan bentuk lainnya akan meningkatkan nilai tambah dari hasil kelor itu sendiri yang dari segi nilai gizinya cukup dibandingkan mie dari non kelor.
Selanjutnya akan dapat menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu KWT untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan jalan menjadi pengrajin mie kelor, kerupuk kelor dan olahan lain dari kelor. Dan pada akhirnya dengan terbukanya peluang usaha akan dapat menyerap tenaga kerja keluarga petani di lingkungan sekitarnya.
Penulisan artikel ini semoga dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan kepada kita bahwa begitu besarnya manfaat dari satu tanaman seperti kelor. Yang lebih penting lagi adalah dengan membudidayakan kelor secara besar-besaran di lingkungan kita, maka dengan sendirinya kita telah menumbuh kembangkan serta melestarikan budaya daerah kita.



Ø   Penulis : Rita Sastriana,S.T.P/PPL Kec. Taliwang
Ø   Sumber : dari berbagai sumber
















Kamis, 07 Agustus 2014

Budidaya Seledri

Budidaya Seledri
Oleh : Sri Astuti, S.Pt. ( PPL Kelurahan Dalam Kec. Taliwang )


Budidaya seledri organik dalam pot
Daun seledri sering dijadikan penyedap masakan. Kebutuhannya sedikit tapi harus ada. Tanaman seledri mudah dibudidayakan secara organik dalam pot atau polybag.
Tanaman seledri (Apium graveolens) termasuk dalam keluarga Umbelliferae, tanaman yang sering dijadikan herba atau tanaman berkhasiat obat. Daun seledri dikonsumsi sebagai lalapan dan penghias hidangan. Bijinya dijadikan bahan penyedap dan ekstrak minyak seledri dimanfaatkan sebagai obat.
Usaha tani budidaya seledri sangat cocok dilakukan di dataran tinggi dengan ketinggian 1000-1200 meter dari permukaan laut. Namun tanaman ini masih toleran ditumbuhkan di dataran rendah. Tanaman ini kurang tahan terhadap curah hujan tinggi.
Jenis tanah yang dikehendaki dalam budidaya seledri adalah tanah yang gembur dan mengandung banyak bahan organik. Tanaman ini tumbuh baik pada tingkat keasaman tanah pH 5,5-6,5. Apabila tanah terlalu asam sebaiknya tambahkan kapur atau dolomit.

Cara menanam seledri

Terdapat dua cara menanam seledri yaitu perbanyakan generatif (dari biji) dan perbanyakan vegetatif (dari anakan). Perbanyakan generatif biasanya diterapkan untuk budidaya seledri skala luas atau komersial. Untuk budidaya skala pekarangan seperti dalam pot atau polybag, perbanyakan secara vegetatif lebih mudah dilakukan.
Perbanyakan generatif dmulai dengan menyemaikan biji terlebih dahulu. Setelah biji tumbuh menjadi bibit, baru dipindahkan ke dalam pot atau polybag. Berikut langkah-langkahnya:
  • Sebelum biji disemai, rendam terlebih dahulu dalam air hangat kuku (50-60 derajat celcius) selama 1 jam.
  • Siapkan tempat persemaian berupa bedengan atau baki semai. Media semai terdiri dari campuran tanah dan kompos yang telah diayak dengan perbandingan 2:1. Baca cara membuat media persemaian.
  • Berikan naungan dengan plastik bening pada bedengan semai untuk menlindungi tanaman dari kucuran air hujan langsung dan terik matahari.
  • Buat alur garitan di atas bedengan sedalam 0,5 cm dengan jarak antar alur 10-20 cm. Tebarkan benih ke dalam alur tersebut dan tutup tipis dengan tanah lalu siram untuk mempertahankan kelembabannya.
  • Siram dengan air secukupnya setiap pagi atau sore untuk mempertahankan kelembaban media persemaian. Media jangan terlalu basah dan jangan pula sampai kekeringan.
  • Bibit siap dipindahkan ke pot atau polybag setelah 1 bulan atau setelah tumbuh 3-4 helai daun.
Perbanyakan vegetatif biasanya dilakukan apabila kita telah memiliki tanaman seledri sebelumnya. Cara perbanyakannya, ambil anakan yang terdapat dalam rumpun tanaman seledri yang telah ada. Kemudian pindahkan ke pot atau polybag baru. Selanjutnya tanaman bisa diperbanyak dari rumpun seledri yang tumbuh.
Setelah bibit siap dipindahkan, siapkan pot atau polybag ukuran sedang. Isi dengan media tanam yang terdiri dari campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1. Ayak terlabih dahulu bahan-bahan tersebut. Penggunaan arang sekam tujuannya agar media tanam memiliki porositas yang baik dan bobot media menjadi ringan sehingga pot atau polybag gampang dipindahkan. Apabila tidak ada arang sekam bisa diganti dengan sekam padi, jerami padi atau serbuk gergaji. Hati-hati dalam membuat media tanam, gunakan bahan-bahan yang bebas dari hama dan penyakit.

Perawatan budidaya seledri

Lakukan penyiraman setiap pagi dan sore hingga tanaman berumur satu minggu. Setelah itu frekuensi penyiraman cukup dilakukan 2-3 kali dalam satu minggu. Tergantung pada kondisi cuaca, usahakan media tidak terlalu becek atau kering.
Untuk budidaya seledri organik pemberian pupuk organik cair sangat efektif diberikan sebagai pupuk susulan. Pupuk organik cair banyak dijual di toko-toko pertanian dalam berbagai merek, atau bisa juga dibuat sendiri. Silahkan baca cara membuat pupuk organik cair. Selain pupuk cair bisa juga digunakan pupuk kompospupuk kandang atau pupuk hayati.
Encerkan pupuk organik cair sebelum disiramkan pada tanaman. Biasanya 10 ml pupuk cair diencerkan dengan 1 liter air sebelum digunakan. Untuk lebih khsususnya ikuti petunjuk yang terdapat dalam kemasan pupuk tersebut. Siramkan pupuk yang telah diencerkan dengan dosis 100 ml per polybag. Frekuensi pemupukan dilakukan setiap 1-2 minggu sekali.
Budidaya seledri dalam pot atau polybag sebenarnya relatif jarang terkena hama atau penyakit. Namun pada budidaya seledri skala luas serangan banyak dijumpai. Tidak ada salahnya kita mengetahui jenis-jenis hama dan penyakit tersebut.
Terdapat beberapa hama yang sering dijumpai dalam budidaya seledri. Beberapa diantaranya adalah ulat tanah, keong, kutu dan tunggau. Hama-hama tersebut bisa diberantas dengan dipungut langsung dengan tangan. Apalagi untuk penanaman dalam polybag.
Sedangkan jenis-jenis penyakit budidaya seledri adalah cercospora, bercak septoria dan virusaster yellow. Untuk menghindari serangan penyakit-penyakit itu, lakukan pencegahan sejak dini. Pencegahan dilakukan sejak pemilihan benih, menjaga sanitasi kebun dan pemupukan yang baik.
Apabila serangan penyakit menghebat, bisa dilakukan penyemprotan dengan pestisida organik. Silahkan baca mengenai pengendalian penyakit dengan pestisida organik.

Panen budidaya seledri

Panen budidaya seledri bisa dilakukan berkali-kali. Panen pertama biasanya terjadi setelah tanaman berumur 1-3 bulan setelah tanam, tergantung varietasnya. Pertumbuhan seledri dikatakan telah maksimum setelah daunnya rimbun dan anakannya banyak.
Seledri dipanen dengan cara memotong pangkal batang secara periodik. Frekuensi pemanenan bisa dilakukan 1-2 minggu sekali. Panen berakhir apabila pertumbuhan anakan sudah tidak produktif lagi. Panen bisa juga dilakukan dengan dicabut.
dari berbagai sumber bacaan



Vidio Profil Kelompok Peternakan Kebun Kopi

Profil Kelompok Peternakan Kebun Kopi
Binaan Sri Astuti, S,Pt, (PPL Kelurahan Dalam Kec. Taliwang )
vidionya bisa dilihat di sini ya http://www.youtube.com/watch?v=c44VkZpV2X4

Pendampingan Sekolah Lapang

Pendampingan Sekolah Lapang 
Oleh : Sri Astuti, S.Pt. ( PPL Kel. Dalam Kec. Taliwang )

Sekolah lapangan adalah proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkat Pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, identifikasi dan mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahatani lebih efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.
Sekolah Lapangan dipandang sebagai salah satu metode dalam proses belajar mengajar yang cukup efektif, karena sangat cocok sebagai metode pembelajaran bagi orang dewasa (Andragogi) karena sifatnya yang tidak formal. Proses belajar dilakukan dilapangan dimana tersedia obyek nyata berupa tanaman cabe merah yang dijadikan materi pelajaran.
Untuk menjamin proses belajar yang efisien, terarah kegiatan sekolah Lapangandilakukan dengan berpedoman pada beberapa hal sebagai berikut:
1. Peserta Sekolah lapangan adalah petani atau kelompok tani yang berada di wilayah kegiatan demplot.
2. Tempat belajar adalah di lahan kegiatan b dengan mengamati perkembangan tanaman.
3. Sekolah Lapangan dilaksanakan 3 kali pertemuan selama kegiatan
4. Materi pelajaran pada praktek/penerapan, pengamatan, diskusi dan tukar menukar informasi dan pengalaman. Materi Pelajaran benar-benar merupakan kebutuhan petani dan disepakati bersama petani.
5. Proses pembelajaran di pandu oleh fasilitator yang berfungsi mengarahkan proses belajar sebagai penengah dalam melakukan diskusi.
6. Petani selaku peserta belajar memiliki hak yang sama untuk bicara dan berpendapat dan merupakan tugas fasilitator untuk menciptakan suasana harmonis dan berimbang dalam proses belajar.
7. Pada setiap akhir proses belajar diharapkan adanya kesepakatan tindak lanjut diantaranya; kesiapan untuk menerapkan teknologi yang sudah dipelajari oleh peserta , pemecahan masalah (bagaimana dan kapan ) prioritas materi pada pertemuan selanjutnya dan lain-lain.

Pupuk Organik

PETUNJUK TEKNIS
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
oleh : Sri Astuti, S.Pt. 
PPL Kelurahan Dalam Kec. Taliwang 


BAB I
1.       Latar Belakang
Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.
Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain.
Potensi pengembangan pertanian dengan pupuk organik di Sumbawa barat sangat bersar mengingat tresedianya limbah pertanian dan peternakan yang melimpah dan belum termaanfaatkan. Selain itu juga pemanfaatan limbah kotoran ternak secara ekonomis akan meberikan dampak positif pada kegiatan peternakan, karena limbah kotoran ternak yang selama ini hanya terbuang sia-sia dan menimbulkan pencemaran lingkungan serta kesehatan karena dibiarkan berserakan sembarangan akan memberikan penghasilan tambahan bagi peternak dari hasil penjulan limbah kotoran ternak tersebut kepada para pengumpul yang akan digunakan untuk bahan baku pembuatan pupuk organik.
2.       Tujuan
2.1.  Tujuan Umum
Pelatihan pembuatan pupuk organic bertujuan untuk memberikan tambahan keterampilan kepada petani peternak untuk memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan sebagai pupuk organic yang dapat di gunakan sendiri maupun secara ekonomis sehingga dapat menunjang kebutuhan akan pupuk dan medukung kegiatan pertanian organic.

2.2.  Tujuan Khusus
a.       Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pembuatan pupuk organic
b.       Membiasakan petani untuk memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan dalam pemenuhan pupuk untuk kegiatan pertaniannya.
c.        Menghasilkan produk pertanian organic

3.       Sasaran Program
Meningkatkannya pengetahuan petani peternak dalam memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan untuk pembuatan pupuk organic yang dapat dimanfaat dilahan pertanian sehingga dapat menghasilkan produk pertanian organic.

4.       Sasaran Kegiatan
Program pelatihan pembuatan pupuk organic ini diharapkan dapat di diikuti dan diterapkan oleh petani peternak yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat.


BAB II
1.       Metode Kegiatan Pelaksanan
Pelaksaan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organic adalah dengan pendekatan sekolah lapangan bagi petani yang berada di sekitar lokasi balai penyuluh pertanian di setiap kecamatan. Peserta akan diberikan gambaran tentang cara membuat pupouk organic, manfaat bagi tumbuhan dan dampak pengunaan pupuk organic.
2.       Bahan dan Peralatan
2.1.  Bahan –Bahan Pembuatan Pupuk Organik
2.1.1.         Bahan pembuatan pupuk organic padat
Limbah pertanian
Limbah peternakan
Limbah rumah tangga
Limbah sayuran
Mikro organisme lokal  (MOL)
Dekomposer Stater
2.1.2.         Bahan pembuatan pupuk organic cair
Buah – buhan
Maja
Keong
Urin sapi/kuda/kambing
2.2.  Peralatan
2.2.1.         Peralatan pembuatan pupuk organic padat
Terpal
Sekop
Ayakan
Gembor
Ember
2.2.2.         Peralatan pembuatan pupuk organic cair
Ember / tong
Blender
Slang
Saringan


3.       Jadwal Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organic yang akan di lakukan di 4 Balai Penyuluh Kecamatan di Kabupaten Sumabwa Barat yang akan dilaksanakan selama 3 hari dengan rincian. Rincian pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut :
Hari
Kegiatan
Penanggung Jawab
Hari 1
1.       Pembukaan pelatihan pembuatan pupuk organic
2.       Pemaparan materi di dalam kelas tentang manfaat pupuk organic, cara pembuatan dan efek pada tanaman 
Panitia Pelaksana

Narasumber
Hari 2
Praktik pembuatan pupuk organic padat dan Praktik pembuatan pupuk organic cair
Narasumber
Hari 3
Aplikasi penggunaan pupuk organic di lahan pertanian
Penutup
Narasumber

Panitia

4.       Pembiayaan
Kegiatan ini dibiayai dengan dana APBD Kabupaten Sumbawa Barat Satker Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan, dengan anggaran biaya pelatihan sebagai berikut :
RINCIAN ANGGARAN BELANJA
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
NO
RINCIAN
VOLUME
SATUAN
HARGA SATUAN
TOTAL
1
Belanja bahan





Limbah pertanian
4
Paket
                   25,000.00
                100,000.00

Limbah peternakan
4
Paket
                   25,000.00
                100,000.00

Limbah rumah tangga
4
Paket
                   25,000.00
                100,000.00

Limbah sayuran
4
Paket
                   25,000.00
                100,000.00

Mikro organisme lokal  (MOL)
4
Paket
                   50,000.00
                200,000.00

Dekomposer Stater
4
Paket
                   50,000.00
                200,000.00

Total



               800,000.00
2
Belanja peralatan





Terpal
4
unit
                125,000.00
                500,000.00

Sekop
4
unit
                   50,000.00
                200,000.00

Ayakan
4
unit
                   50,000.00
                200,000.00

Gembor
4
unit
                   50,000.00
                200,000.00

Ember
4
unit
                   25,000.00
                100,000.00

Total



            1,200,000.00

TOTAL BELANJA BAHAN PELATIHAN
             2,000,000.00
3
Transportasi peserta pelatihan pembuatan pupuk organik  4 BP x 20 Org x 1 kali
80
orang
                   25,000.00
             2,000,000.00
4
Biaya snack pelatihan 4 BP x 20 org x 3 kali pertemuan
240
kotak
                     7,500.00
             1,800,000.00

TOTAL BIAYA PELATIHAN
             5,800,000.00

BAB III
Penutup

           Demikian kerangka acuan kerja kegiatan  ini dibuat dengan harapan dapat menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organic di  Kabupaten Sumbawa Barat dengan harapan akan mampu memberikan rekomendasi terhadap pola pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian dalam menunjang peningkatan produksi pertanian.